F.

One time, we fall in love. Next thing we know, we fail in love.

Si Burung Digital

  
Hari ini, saya berkesempatan meeting bersama salah satu punggawa perusahaan Twitter di Indonesia. Entah bagaimana, pembawaannya membuat saya yakin bahwa orang ini bekerja untuk sebuah perusahaan yang dinamis dan fun.

Saya jadi teringat momen-momen seru yang saya alami semasa saya rajin berceloteh atas nama pribadi di Twitter, beberapa tahun lalu. Biarlah hari ini saya menulis surat cinta untuk Twitter, yang tautannya disebar di Twitter, di program #30HariMenulisSuratCinta di Twitter.

Pertama, yang harus saya akui adalah bahwa saya dulunya antisosial. Saya sangat kurang pandai bergaul. Saya lebih nyaman dalam kesendirian; membaca, makan, jalan-jalan, bahkan nonton di bioskop pun sendirian. Makanya, dulu saya lebih banyak berlindung di balik tembok digital saja, karena tidak punya cukup keberanian untuk berinteraksi tatap muka.

Siapa sangka sekarang saya tidak merasa kesulitan dalam berkomunikasi dengan orang lain begini, dan malah bekerja di bidang yang erat kaitannya dengan komunikasi, yang mengharuskan saya bertemu banyak orang.

Kredit khusus saya berikan untuk platform berlogo burung biru ini. Karena dari sanalah saya berangkat menjadi pribadi yang lebih berani bertutur, menyampaikan ide, berteman, sampai akhirnya berani bertatap muka lewat apa yang biasa disebut Tweetup. Bahkan, seperti yang pernah saya singgung di surat cinta saya sebelumnya, lingkaran pertemanan saya sekarang didominasi oleh mereka yang saya kenal lewat Twitter. Mantan pacar terakhir saya pun saya kenal lewat celotehan cerdasnya di Twitter.

Twitter juga menjadi media yang membuat saya belajar bagaimana mengubah ide-ide saya menjadi tulisan dan konten yang menarik. Twitter pernah memberi saya kesempatan diapresiasi oleh banyak orang dengan masuk nominasi #GembritAwards2012 kategori “Soundcloud” (I know it’s weird, given the fact that Soundcloud is not a part of Twitter!) yang diadakan oleh Sang Selebtwit Ciayumajakuning, @gembrit.

Dear Twitter,

Sejak akhir tahun lalu, saya mencanangkan bahwa tahun 2016 ini adalah tahun untuk saya kembali ke Twitter. Ya, Twitter yang sempat saya ‘tinggalkan’ secara pribadi karena saya terlalu nyaman dengan media sosial lain yang lebih private. Yang saya sadari adalah bahwa saya harus sesekali keluar dari zona nyaman dan menyambut dunia dengan segala hiruk-pikuknya, dan salah satunya adalah melalui Twitter.

Segala keterbatasan yang saya temukan di kantor, yang mengharuskan saya ada di jalur yang sesuai citra dan gaya perusahaan saya (well, saya bekerja sebagai seorang Social Media Specialist yang memangku akun-akun digital kantor) harusnya bisa saya dobrak—secara bertanggung jawab—via akun pribadi saya. Maka, saya pribadi akan berusaha menemukan kembali keseruan Twitter. Saya ingin terinspirasi Twitter.

Terima kasih, Twitter, yang pernah menjadi media yang memberi saya kebahagian dalam bentuk teman-teman terdekat. Semoga kesan dinamis dan fun yang saya dapat dari meeting tadi siang membuktikan bahwa masih banyak lagi kebahagiaan dan keseruan yang bisa kamu tebar untuk semua penggunamu. Dan lagi, terima kasih telah menjadi ladang rezeki bulanan saya saat ini. 😝

_________

Surat cinta ini saya tujukan untuk @TwitterID

Kredit foto: Situs penyedia logo resmi Twitter

Terima Kasih, Nenek!

“Ini Fikan kapan mau nikahnya, ini?”

Begitu tanya Nenek padaku dua jam lalu, saat aku pamit pulang dari acara syukuran keluarga besar atas ulang tahun Nenek yang ke-84. Aku hanya menjawab dengan cengiran tanpa kata-kata. Kata-kataku kusimpan untuk kutuangkan di surat cintaku hari ini, spesial untuk Nenek.

Aku senang, bonus usia Nenek di dunia ini Tuhan panjangkan. Bonus? Iya. Kalau kata Mama, usia di atas 60 tahun merupakan usia bonus. Mama menganalogikannya bagaikan orang yang memiliki warung dan sudah balik modal, sehingga yang tersisa hanya masa-masa berbahagia menikmati keuntungannya. Semoga memang begitu. Semoga memang saat ini Nenek tinggal menikmati tuaian benih kebaikan yang sudah Nenek tebar selama ini.

Kalau merunut ke darah yang mengalir di tubuh kita, seharusnya hari ini kita merayakan Tahun Baru, Nek. Tapi, karena sejak kecil ayah Nenek sudah tidak tinggal di Tiongkok lagi, kita jadi tidak terpapar pada budaya-budaya etnis Tionghoa. Jadilah kita tidak bermeriah-meriah dalam balutan chongsam merah dan tidak menerima atau memberi angpao. Padahal sepertinya menerima angpao seru ya, Nek. Bhahahak!

Dulu, waktu aku kecil dan tinggal terpisah dari Mama dan Ayah selama setahun, Neneklah yang merawatku. Nenek yang mengurus segala keperluanku masuk sekolah dasar. Nenek juga yang mengantarku ke dokter kalau aku demam. Terima kasih, Nek!

Aku masih ingat Nenek memintaku membeli minyak tanah satu jerigen ke Warung Batak Pincang—jangan salahkan aku; warung itu memang dikelola oleh seorang inang Batak berkaki pincang sebelah, sehingga warung itu dikenal masyarakat sebagai Warung Batak Pincang—lalu setelahnya aku  akan meminta diupahi dua ratus perak. Cukupan untuk membeli es orson. Hihihi.

Nenek sudah tua. Jalan pun butuh dipapah. Tapi syukurlah Nenek tidak pikun. Nenek masih ingat siapa aku. Doaku, semoga Nenek selalu berlimpah kesehatan dan dijauhkan dari pikun. Sedih rasanya jika membayangkan Nenek tidak mengenali sebelas anak Nenek beserta masing-masing pasangannya. Apalagi kalau Nenek sampai tidak mengenali lebih dari 40 cucu dan cicit yang semuanya sayang pada Nenek.

Semoga sisa umur Nenek di dunia ini penuh manfaat bagi Nenek sendiri dan orang-orang di sekitar Nenek, ya. Jangan cepat-cepat ingin menyusul Kakek, ya. Kami masih ingin berkumpul, melihat Nenek tersenyum dengan gigi seadanya itu.

Nenek tidak usah mengkhawatirkan jodohku. Cukup aku saja yang khawatir soal itu. Hihihi. Nenek cukup fokus menjalani hari tua dengan bahagia saja, ya.

Terima kasih untuk semuanya, Nek. Sekarang giliran kami, anak dan cucu Nenek, yang mengurus dan menjaga Nenek tersayang.

Gong xi fa cai, Nenek. Zhù nǐ shēngrì kuàilè!

O’ Love Handles…

Open Mic

Pernahkah kamu bayangkan, bagaimana seandainya dulu kita kenalan lebih awal? Asumsiku sih keadaan akan berbeda.

Sebelumnya aku pernah berandai-andai menjalin hubungan dengan seorang selebritas yang dikenal banyak orang, namun aku sama sekali tidak tahu harus membawa khayalan itu ke mana. Tentu saja karena:

  1. Aku bukan siapa-siapa; maksudku, bukan dari kalangan yang banyak berada di bawah sorotan media. Ada di panggung, menyanyi di hadapan banyak orang, tak lantas membuatku jadi seorang pesohor sepertimu. Lingkungan pertemananmu adalah daerah tak tertembus karena hanya dihuni kalangan terbatas;
  2. Tuntutan gaya hidup kita mungkin sangat berbeda. Aku terbiasa makan di pinggiran jalan. Kupotret makananku pun tak masalah. Di akhir sesi makan, aku akan berucap hamdalah sebagai tanda syukur masih bisa makan. Sementara stereotip menunjukkan bahwa kalangan selebritas akan kesulitan makan di pinggiran jalan. Alih-alih memotret makananmu, justru malah kamulah yang akan dipotret orang. Di akhir sesi makan, kamu mungkin akan mengucap hamdalah karena hal lain, yaitu kenyataan bahwa ‘siksaan’ penggemar atas exposure barusan itu akhirnya selesai; dan
  3. Kubayangkan, berhubungan dengan selebritas tentu saja sedikit-banyak akan makan hati. Kamu mengerti maksudku, kan? Yang memujamu bukan cuma aku. Yang ingin kamu cintai bukan cuma aku.

Pokoknya dunia keartisan dan dunia medioker bagai langit dan bumi.

Tapi ternyata mengenalmu mengubah persepsiku. Bahwa di balik publisitas tinggi, tetap ada hati yang rendah. Kamu cuek makan di warung pecel pinggir jalan–yang penting enak. Kamu juga tak sungkan memperkenalkanku pada teman-teman terdekatmu. Pada beberapa memang baru sebatas kamu ceritakan, namun yang lainnya sudah duduk bersama sambil tertawa-tawa.

Kamu memberiku pemahaman bahwa public figure juga ingin dicintai dalam level yang bukan cuma ‘idola-penggemar’ saja.

Aku ingat satu tengah malam saat kamu menelepon. Kita cerita banyak hal, lalu kamu ingin aku menyanyikan lagu yang bisa mengantar kamu tidur. Mengingat bahwa sebenarnya kamulah yang penyanyi profesional, momen itu rasanya manis sekali.

Aku juga ingat sesi-sesi kopi kita. Kita melipir ke kedai-kedai yang menjual kopi dan suasana yang lebih tenang. Aku akan mendengarkanmu bercerita tentang lagu-lagu baru dan tawaran-tawaran manggung yang ada di depan matamu; juga tentang pengalamanmu malang melintang di industri musik.

Sayangnya, aku kalah cepat dan mungkin kalah hebat dibanding dia, yang lalu kamu jadikan prioritasmu. Dia, yang kemudian membuatmu merasa tidak dianggap. Dia, yang sibuknya melebihi kesibukanmu. Kalau saja kita kenal lebih awal, kemungkinan aku yang akan ada di sampingmu sebagai kekasih–yang tentu saja tidak terlampau sibuk sampai-sampai membuatmu tak dianggap.

Mungkin, kalau kita jadi, aku akan hadir di pertunjukan-pertunjukanmu, bertepuk tangan hingga kebas saking meriahnya; mungkin juga aku yang akan berusaha sekuatku untuk mengusir lelahmu setelahnya.

Now my wish is simply for you to gain abundant success–ah, and also for your heart to get mended by happiness spread by everyone around you. Because O’ Love Handles, you deserve to live with happiness.

 

____________

*) Love Handles adalah istilah bahasa Inggris tak baku yang berarti daerah pinggiran perut yang agak berlemak sehingga dapat dicubit gemas (yang kemudian jadi sebutan yang sering kami pakai–karena kami berdua memilikinya).

Kredit foto: situs ini

Selembar Tisu dalam Botol

Dik,

Apa kabarmu di sana? Maafkan Mas yang masih belum tahu bagaimana caranya pulang. Mas ingin sekali ada di sana, di rumah kita yang seharusnya sekarang sudah selesai dibangun. Mas susah payah banting tulang beribu-ribu kilometer darimu begini kan supaya kita berdua bisa hidup nyaman setelah Mas berhenti melaut. Mas sungguh ingin ada di dekat kamu saja, Dik. Rencananya, Mas akan mencari pekerjaan lain yang cukup menghidupi kita, namun tidak menuntut Mas untuk pergi sangat jauh meninggalkan istri Mas saat ia hamil muda begini.

Bagaimana kamar tidur kita, Dik? Apakah kamu senang ada di sana? Pasti tidak terlalu, ya. Lha wong Mas masih di sini, kok. Pasti belum lengkaplah kamar kita.

Mas menulis surat ini di selembar tisu yang terbungkus plastik antibasah di saku Mas, dan pulpen kalung yang untungnya sedang Mas pakai. Mas sudah tidak tahu lagi bagaimana caranya supaya surat ini sampai ke tanganmu. Gelombang kejam yang menelan handphone Mas sudah memutus komunikasi kita.

Di sini tidak ada siapa-siapa lagi, Dik. Sejujurnya Mas takut. Semalam, Mas keliling pulau tak bertuan ini. Mas tidak menemukan siapa pun. Awak kapal yang lain sudah tak tahu terdampar di mana.

Mana pernah Mas berpikir bahwa akan jadi begini. Tampaknya Mas harus terima kemungkinan terburuk, bahwa ruang tamu di rumah kita yang baru itu akan kamu pakai untuk menerima tamu-tamu yang datang dalam duka; bahwa senyum kamu tak akan pernah Mas lihat mengembang di kamar yang harusnya untuk kita; bahwa tak akan pernah Mas dengar tawa dan tangis buah hati kita kelak.

Mas masukkan selembar tisu ini, berisi cinta Mas padamu, ke dalam botol persediaan air terakhir yang akan Mas apungkan. Mas tahu kecil sekali kemungkinan akan sampai padamu, Dik.

Mas mohon maaf telah meninggalkan kamu dan janin di kandungan seperti ini, Dik. Lebih dari semua itu, Mas mohon diri. Mas sayang kamu…

Cinta Selamanya

Aku masih bisa merasakan sentuhan tanganmu di leherku. Tanda yang kamu tinggalkan di situ bukan lagi sekadar merah, tapi sampai biru. Masih terbayang deru napasmu yang berat dan peluhmu yang menetes. Malam itu kamu sangat macho. Urat-urat di tanganmu menonjol. Dalam cintaku yang begitu kuat, aku tercekat.

Aku masih tak mengerti mengapa malam itu kamu mencekikku seperti itu. Tiga hari lagi, genap empat puluh hari kepergianku. Tunggu aku, ya. Tiga hari lagi, aku siap bangkit dan kembali. Cuma untuk kamu, lelaki yang paling kucintai. Hihihi.

Aku Cinta Kamu

love_dictionary_definition_valentine_typography_throw_pillow-r1e34b6722b2345d8a2ad9b45ebb8c97e_i5fqz_8byvr_512

Pertama aku kenal kamu, aku cuma anak kecil yang nggak tahu apa-apa. Papa yang bawa kamu ke rumah. Kata Papa, kamu dapat membantuku agar aku tahu banyak hal. Aku bingung entah apa yang dapat aku lakukan dengan kamu. Untuk anak umur delapan tahun, ukuran kamu terlalu gede. Tebal, bikin aku takut duluan.

Tapi ternyata kamu tidak menakutkan. Kamu penuh kata-kata ajaib yang zaman dulu menurutku baru dan nggak familier buatku. Aku girang bukan main. Aku peluk Papa dan cium tangannya. Papa baik banget mau berikan aku kamu.

Kini, dua puluh tahun kemudian, aku hidup di dunia yang berhubungan dengan kamu tiap waktu. Tanpa kamu, hidupku mungkin kurang bermakna. Kamu mengajarkanku bahwa apa pun punya arti. Kalau aku bingung orang bilang apa, aku tinggal lihat kamu. Kalau aku curiga bahwa yang orang lain ucapkan nggak benar, aku juga lihat kamu. Aku jadi pintar.

Jadi, aku mau ngucapin dari hatiku yang paling dalam: thank you.

Aku nggak mau panjang-panjang nih. Tapi aku mau liatin dulu ke orang-orang, bahwa di kantorku, ada banyak kamu. Berjejer. Yeay! 😆

Anyway, kamu pertama yang aku baca adalah yang paling kiri di gambar ini:


Ya udah. Nanti aku lanjutin kalau tombol huruf di keyboard-ku udah bia berfungi eperti ediakala lagi.

 

___________

*) Foto ata diambil dari ini. Foto bawah diambil dari koleki pribadi.